Cara Mengatasi Dehidrasi di Gunung

Dehidrasi adalah kondisi di mana tubuh kekurangan cairan. Kondisi ini sering di alami oleh para pendaki gunung pemula yang meremehkan anjuran stay hydrated. Padahal sudah di kasih tahu, minumlah air sebelum merasa haus. Tapi, nyatanya pendaki pemula tetap lupa minum walau bibir dan mulut mereka kering. Akibatnya, para pendaki pemula banyak yang terserang dehidrasi.

Gejala dehidrasi paling umum yang dirasakan pendaki pemula adalah lemah, letih, lesu, sakit kepala, mulut kering, kulit kering, hingga sembelit. Jika kondisi tersebut kamu biarkan, dehidrasi akan semakin parah. Metabolisme tubuh terganggu. Dan kamu akan sakit. Pada ketinggian gunung di atas 3.000 mdpl, dehidrasi parah dapat memicu acute mountain sickness (AMS). Alhasil, mau tidak mau, teman-temanmu perlu memanggil SAR untuk melakukan evakuasi.

Lalu, apakah ada solusi? Ada. Berikut 5 cara mengatasi dehidrasi di gunung:

Jika kamu mempraktikkan dengan benar, kamu akan sembuh dengan cepat dari dehidrasi di gunung. Untuk lebih jelasnya, yuk baca sampai selesai.  

1. Minum air sesuai kebutuhan harian tubuh

Cara pertama untuk mengatasi dehidrasi di gunung adalah minum banyak air. Terdengar seperti nasihat klasik, bukan? Tapi, itu benar. Jika kamu dehidrasi, solusi sederhananya adalah minum. That’s it! Tapi, seberapa banyak air yang harus saya minum? Menurut penelitian Michael, dkk, 2005, manusia setidaknya membutuhkan minimal 40cc air minum per kilogram berat badan per hari. Atau setara dengan 0,04 liter/kg (berat badan)/hari.

Bingung ya? Okay, kami akan mensimulasikan cara perhitungannya. Simak perhitungan di bawah ini.

Misal: Edwin (25), 70 kg, tinggi 175 cm, aktivitas normal.

Daily intake water: 0,04 L x berat badan x 1 hari = 0,04 x 70 x 1 = 2,8 L/kg/hari

Jadi, pada kondisi normal (aktivitas sehari-hari), Edwin perlu mengkonsumsi air minum minimal 2,8 liter per hari. Total konsumsi air ini dapat berasal dari makanan, buah, sayur, dan air minum. Jika Edwin kurang mencukupi kebutuhan air harian, dia akan terserang dehidrasi.

Sampai di sini paham ya? Okay, lanjut!

Bagaimana pengaplikasian teknik daily intake water pada korban dehidrasi di gunung?

  • Pertama, kamu perlu menghitung kebutuhan air harian dari pendaki gunung yang terserang dehidrasi. Hal ini dikarenakan kondisi tubuh masing-masing orang berbeda.
  • Kedua, tanyakan kepada korban, berapa banyak air yang sudah di minum selama di gunung dalam 24 jam terakhir. Dan pastikan apakah yang dia minum air putih, kopi, teh atau minuman berenergi.
  • Ketiga, suruh pendaki gunung yang dehidrasi untuk minum sedikit demi sedikit sampai mencukupi kebutuhan air minum hariannya. Pada dehidrasi ringan, kami merekomendasikan untuk memberikan air dingin secara berkala. Kalau kuat 600 ml, ya langsung dihabiskan saja. Istirahat 15-20 menit, lanjut minum lagi. Ulangi prosedur tersebut sampai daily water intake si pendaki tercukupi. Paling lama prosedur ini membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk pendaki meminum seluruh jatah air minumnya. Jadi, tolong sabar dengan pasien dehidrasi ya. Soalnya, kebanyakan dari mereka orang bandel. Hehe.
  • Terakhir, Setelah daily intake water pendaki terpenuhi, biarkan dia istirahat. Kasih makanan berkalori kepada pendaki untuk menambah tenaga. Dan kasih penghangat badan. Jika pendaki masih kuat minum, kamu boleh memberi air minum lagi. Intinya, pastikan kebutuhan minimalnya sudah tercukupi dulu. Sisanya, bonus.

Catatan: Kenapa di kasih bonus minum? Karena mendaki gunung termasuk olahraga berat. Cairan tubuh pendaki dapat keluar melalui uap air, keringat, hingga urine. Jadi, tubuh akan lebih banyak mengeluarkan cairan dari pada aktivitas normal.

2. Minum air dingin sedikit demi sedikit

Pada pembahasan sebelumnya, kami merekomendasikan cara mengatasi pasien yang terserang dehidrasi di gunung dengan minum air dingin sedikit demi sedikit. Ini ada alasannya, lho!

  • Pertama, air dingin lebih cepat terserap oleh tubuh dari pada air panas.
  • Kedua, molekul H2O di dalam air dingin memiliki ikatan yang lebih stabil.
  • Ketiga, air dingin membuat sensasi sejuk dan menyegarkan dahaga pada pendaki yang dehidrasi.

Catatan: Air dingin yang kami maksud adalah air dengan suhu sekitar 17-27 derajat Celsius. Jadi, jangan disalahartikan dengan air es, lho! Hehe. Kalau orang dehidrasi kamu kasih air es dalam jumlah banyak, suhu tubuh akan menurun. Ini tidak baik untuk tubuh. Bisa-bisa besoknya dia meriang, flu dan demam.

Saat memberikan air dingin, usahakan jangan menggunakan sedotan. Lebih baik minum menggunakan gelas atau langsung dari botol air minum. Soalnya, menghabiskan 600 ml air minum dengan sedotan itu rasanya lama banget. Dan bikin mulut capek. Hehe.

3. Minum minuman elektrolit pengganti cairan tubuh

Cara mengatasi dehidrasi yang akan kami bahas selanjurnya adalah menambah cairan elektrolit di dalam tubuh. Pendaki gunung yang dehidrasi sebenarnya bukan hanya mengalami kekurangan cairan. Dia juga mengalami ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh. Akibatnya, metabolisme tubuh pendaki gunung yang terserang dehidrasi terganggu.

Gejala paling umum dari gangguan metabolisme di dalam tubuh pendaki, diantaranya:

  1. Badan terasa lemah, letih dan lesu.
  2. Sakit kepala, mulai dari kepala berat, pusing, hingga vertigo.
  3. Mulut terasa kering.
  4. Kulit kering.
  5. Sembelit.

Kondisi ini sudah masuk ke dalam kategori dehidrasi sedang. Solusi terbaik untuk menyeimbangkan elektrolit tubuh adalah minum minuman pengganti elektrolit. Minuman alami pengganti elektrolit tubuh adalah air kelapa muda (degan ijo). Ini bagus banget sebagai pengganti ion tubuh. Kalau minuman pabrikan, kami merekomendasikan Pocari Sweet, Mizone & Isotonik.

Minum minuman pengganti ion secara bertahap. Dan lihat reaksi tubuh dari pendaki yang dehidrasi. Beri makanan ringan yang bisa menambah kalori tubuh. Dengan begitu, pendaki akan lebih cepat pulih dan lebih berenergi.

4. Buat minuman oral rehydration solution (ORS)

Pada pembahasan sebelumnya, kami sudah memberikan tutorial cara mengatasi dehidrasi ringan dan sedang untuk pemula. Sekarang kami ingin mengajak ke kasus dehidrasi berat yang lebih ekstrim, yaitu hyponatremia.

Kasus ini sering di alami oleh pendaki gunung dengan waktu tempuh berhari-hari. Misalnya, 5-10 hari. Aktivitas berat, medan yang ekstrim dan cuaca yang terik menyebabkan tubuh pendaki berkeringat sangat banyak. Apabila berlangsung selama berhari-hari, tubuh akan kehilangan banyak cairan dan mineral melalui keringat. Kondisi ini dikenal dengan istilah hyponatremia.

Secara sederhana, hyponatremia adalah dehidrasi berat. Secara medis, hyponatremia adalah kondisi di mana darah kekurangan garam mineral natrium. Jadi, kadar natrium di dalam darah pendaki jauh di ambang batas normal.

Catatan: Bagi yang belum tahu, natrium itu sangat penting untuk tubuh. Natrium berfungsi untuk mengendalikan tekanan darah, mengatur sistem keseimbangan elektrolit, dan menyelaraskan kinerja otot.

Gejala hyponatremia yang paling sering terlihat adalah:

  1. Linglung.
  2. Sakit kepala.
  3. Mual & Muntah.
  4. Sendi dan otot lemah.
  5. Kram di beberapa bagian tubuh.
  6. Gelisah berkepanjangan.
  7. Kejang-kejang.
  8. Penurunan kesadaran.
  9. Pingsan/koma hingga kematian.

Pada kasus hyponatremia, permasalahan tidak bisa selesai hanya mengkonsumsi air minum dalam jumlah banyak. Kamu perlu memberikan larutan ORS ke dalam tubuh. Oral Rehydration Solution (ORS) adalah larutan garam untuk mengatasi dehidrasi dan diare dalam kondisi sedang hingga berat. Larutan Oral Rehydration Solution (ORS) sangat mudah diserap oleh tubuh dan cepat menggantikan ion tubuh yang hilang selama pendakian.

Jika kamu mendaki dalam waktu lama, kami menyarankan untuk membawa Oral Rehydration Solution (ORS) di dalam perlengkapan P3K. Kamu dapat membeli larutan ORS siap sedu di apotik. Kami merekomendasikan untuk membeli Oralit 200, Pharolit dan Oralit sachet dari Kimia Farma. Untuk harganya, sekitar Rp500-1.500 per bungkus. Atau kalau kamu ingin lebih murah, kamu bisa membuat oralit sendiri.

Catatan: Di Indonesia, larutan ORS lebih dikenal dengan nama larutan Oralit.

5. Minta bantuan medis untuk melakukan hidrasi intravena

Kondisi terakhir ini biasanya terjadi pada pendaki gunung yang dehidrasi parah. Misalnya, pendaki yang dehidrasi setelah melakukan ekspedisi 7 summits. Pendaki gunung yang selamat setelah berminggu-minggu hilang hingga pejuang survival di alam bebas.

Pada kondisi dehidrasi parah, pendaki bisa mengalami hyponatremia & hypernatremia.

  • Hyponatremia adalah kondisi dehidrasi di mana darah pendaki kekurangan zat natrium.
  • Hypernatremia adalah kondisi dehidrasi di mana darah pendaki kelebihan zat natrium.

Kedua kondisi tersebut sama-sama memprihatinkan. Hal ini karena keduanya dapat menimbulkan gangguan metabolisme fatal bahkan berujung pada kematian. Hidrasi intravena ditempuh saat pendaki yang mengalami dehidrasi tidak bisa di obati dengan larutan ORS. Intinya, Oralit tidak mempan untuk mengembalikan kadar osmosis di dalam tubuh. Oleh karena itu, pendaki gunung yang mengalami dehidrasi parah biasanya langsung dilarikan ke rumah sakit oleh tim SAR. Dan tim SAR yang mengetahui pendaki terkena dehidrasi parah, biasanya meminta tindakan hidrasi intravena.

Hidrasi intravena adalah teknik di dunia medis untuk melakukan pemberian cairan dan larutan ion ke pasien melalui infus. Biasanya infus di pasang pada jalur pembuluh darah di tangan pasien. Untuk cairan infus hidrasi intravena, petugas medis biasanya menggunakan larutan isotonic sodium chloride 0,9% (20-30 ml/kg). Hidrasi intravena dilakukan selama 1-2 jam sampai tubuh pasien pulih dan dapat menerima Oralit. Jika sudah tertolong, dokter akan memberikan resep Oralit untuk mempercepat penyembuhan dehidrasi.

Demikian pembahasan dari 5 cara mengatasi dehidrasi di gunung. Apakah ada informasi penting yang kami lewatkan? Jika iya, tolong ingatkan kami melalui kolom komentar ya. Apabila artikel ini bermanfaat, tolong bagikan ke teman-temanmu. Stay hydrated!

Baca lebih lanjut: Makanan Pendaki Gunung »

Previous Article

Tips Mendaki Gunung agar Tidak Cepat Lelah

Next Article

Alasan Orang Suka Mendaki Gunung

Tinggalkan komentar