Beranda - Info Pendaki - Formasi Pendakian

Formasi Pendakian

Ada banyak cerita pilu tentang pendaki yang tercecer dari rombongan. Ada pendaki pemula yang pindah rombongan, tersesat hingga hilang. Kejadian seperti ini banyak disebabkan oleh buruknya manajemen pendakian dari regu pendaki. Akibatnya, pendaki pemula tidak paham tentang formasi pendakian dan peran pendaki di dalam sebuah regu.

Ini sangat berbahaya, manajemen tim yang kacau akan membuat regu pendaki tidak kompak. Misalnya, komunikasi antar anggota buruk, egois, hingga acuh tak acuh dengan kondisi rekannya. Alhasil, saat terjadi cuaca buruk atau ada kecelakaan di gunung, pendaki akan meninggalkan rekannya. Sungguh naif memang, tapi kenyataan itu ada dilapangan.

Dari permasalahan tersebut, kami akhirnya menulis artikel mengenai formasi pendakian. Karena menurut kami, ilmu ini penting untuk para pendaki pemula. Kamu akan belajar tentang bentuk formasi pendakian, pembagian tugas hingga aturan dasar mendaki beregu. Penasaran? Untuk lebih jelasnya, silakan baca pembahasan sampai selesai.

Bentuk formasi pendakian

Formasi pendakian adalah suatu teknik untuk menyusun regu pendaki gunung berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan tugas pendaki. Bentuk formasi pendakian biasanya berupa barisan satu garis lurus yang terdiri dari navigator, leader, follower, logistik, chef hingga sweeper. Setiap pendaki yang mendapatkan tugas di formasi pendakian wajib memiliki pengetahuan dan pengalaman khusus. Hal ini dikarenakan tugas dan tanggung jawab setiap posisi menentukan kenyamanan dan keamanan regu pendakian.

Ilustrasi Formasi Pendakian Gunung Dalam Bentuk Regu Pendakian
Ilustrasi formasi pendakian gunung dalam bentuk regu pendakian

Untuk pendaki pemula, kami sarankan untuk memilih posisi sebagai, yaitu follower. Bukan meremehkan, tapi pendaki pemula masih perlu banyak belajar. Dengan mengisi posisi follower, kamu dapat mengamati tugas dan kewajiban dari masing-masing posisi. Dengan begitu, kamu akan belajar langsung dari pendaki senior. Dan kamu akan mendapatkan tips mendaki gunung untuk pemula langsung dari pendaki yang sudah berpengalaman. Alhasil, kamu akan dapat belajar tentang hiking & camping dengan sangat cepat.

Aturan dasar mendaki beregu

Dalam pendakian beregu, ada aturan dasar yang wajib pendaki gunung taati.

  • Pertama, pendakian beregu sebaiknya terdiri minimal 4 orang. Menurut kami idealnya satu regu terdiri dari 6 orang. Selain ramai dan lebih seru, pembagian tugas berdasarkan formasi pendakian jauh lebih mudah.
  • Kedua, pastikan satu pendaki senior bisa mendampingi satu pendaki pemula. Jadi, apabila kamu mendaki dengan regu 4 orang, minimal ada 2 pendaki senior. Dan apabila kamu mendaki dengan regu 6 orang, minimal ada 3 pendaki senior. Pendaki senior wajib memegang posisi leader atau sweeper. Untuk pendaki pemula, sebaiknya memilih posisi follower. Hal ini untuk meminimalisir risiko pendakian.
  • Ketiga, pilihlah leader pendakian yang berpengalaman, punya pengaruh kuat di dalam tim dan paham dengan medan pendakian. Karena leader adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keamanan, kenyamanan dan keselamatan tim. Mulai dari awal pendakian hingga sampai basecamp. Jika kamu sudah menentukan leader pendakian, setiap anggota wajib mengikuti instruksi dari leader. Kekompakan adalah kunci dari kesuksesan regu pendakian.
  • Keempat, jangan terpisah jauh dari rombongan. Karena di alam bebas, kita tidak tahu bahaya apa yang mengancam. Tetap jaga kekompakan dan bentuk formasi pendakian yang solid.
  • Kelima, selalu jujur dengan kondisi fisik masing-masing. Jika sakit bilang sakit, jika tidak kuat bilang tidak kuat. Jangan memaksakan diri, tapi juga jangan manja. Apabila melihat anggota pendakian yang sakit, segera rawat sebaik mungkin. Hilangkan sifat acuh dan egois saat pendakian. Karena kekompakan adalah kunci sukses pendakian beregu.
  • Terakhir, setiap anggota wajib memiliki tanda pengenal yang sama untuk memudahkan leader mengawasi regu pendakian. Kamu dapat menggunakan item dengan warna yang sama sebagai penanda rombongan. Misalnya, kaos, bros, pita, pin, syal, slayer kain segitiga hingga cover bag dengan warna yang sama.

Ada pepatah, “Jika kamu ingin tahu sifat asli seseorang, ajaklah dia mendaki gunung.”. Nasihat itu ada benarnya. Karena saat di gunung, kondisi fisik, mental dan pikiran seseorang akan cenderung lengah. Dan sifat asli seseorang akan muncul tanpa dia sadari. Jadi, kamu jangan heran jika tiba-tiba temanmu terlihat berbeda dari biasanya. Hehe.

Satu pesan dari kami:

  1. Setiap pendaki gunung wajib membawa perlengkapan mendaki gunung sesuai prosedur pendakian. Minimal 10 perlengkapan mendaki gunung terpenting harus di bawa.
  2. Jangan egois dan jangan acuh terhadap sesama anggota pendakian. Jika memang tidak bisa lanjut muncak, jangan dipaksakan. Ingat! Puncak gunung tidak pergi kemana-mana. Jika tidak bisa muncak hari ini, masih ada hari esok. Utamakan keselamatan rekan satu tim pendakianmu terlebih dahulu.

Pembagian tugas

Pada pembahasan sebelumnya, kami telah menjelaskan tentang bentuk formasi pendakian dan aturan dasar pendakian beregu. Pada chapter ini, kami akan memperdalam pembahasan pada topik formasi pendakian, yaitu pembagian tugas di dalam regu pendaki.

Secara sederhana, ada 6 pembagian tugas dalam formasi pendakian::

1. Navigator

Navigator adalah bagian regu pendakian yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Seorang navigator wajib memiliki keahlian navigasi darat, seperti: membaca peta, menggunakan kompas, hingga memastikan jalan. Kami menyarankan memilih navigator yang sudah berpengalaman. Misalnya, pendaki senior yang sudah pernah naik gunung tersebut. Pendaki yang pernah survei jalur pendakian secara langsung. Seorang pendaki yang memiliki kemampuan navigasi darat dan insting yang bagus.

Navigator biasanya berjalan di depan leader. Dia akan selalu menyampaikan kondisi jalan kepada leader. Jadi, navigator juga perlu memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Catatan: Biarpun seorang navigator berjalan paling depan, tapi dia wajib mengatur ritme perjalanan. Karena jika si navigator nggak ada otak dan tetap ngegas terus sampai puncak, jarak antar anggota regu bisa sangat jauh. Semakin jauh jarak rombongan, semakin mudah anggota rombongan tercecer di tengah jalan. Ini berbahaya. Jadi, leader bisa menegur si navigator kalau dia mulai di luar ritme pendakian.

2. Leader

Leader adalah seseorang yang bertugas sebagai pemimpin regu pendakian. Leader memiliki tanggung jawab yang paling besar di tim pendakian. Dialah yang memegang kendali akan keputusan krusial selama pendakian. Dan semua anggota wajib mengikuti instruksinya.

Karena tugas leader sangat berat, pastikan memilih leader yang berpengalaman dan memiliki pengaruh kuat di dalam tim. Hal ini karena tim butuh seseorang yang terus bisa memotivasi, mengarahkan dan membuat keputusan dalam kondisi sulit. Jadi, pilihlah leader yang benar-benar kompeten.

Posisi leader biasanya tepat di belakang navigator. Akan tetapi, leader bisa berpindah-pindah tempat untuk melakukan koordinasi, dan memantau setiap anggota pendakian. Jadi, leader bisa di depan, di tengah maupun di belakang saat menjalankan fungsi controlling. Setelah controlling selesai, dia akan kembali ke posisi semula, yaitu di belakang navigator.

3. Follower

Follower adalah seseorang yang bertugas sebagai pengikut di rombongan. Posisi follower selalu berada di tengah rombongan pendakian. Tepatnya dia mengisi posisi di belakang leader dan di depan sweeper. Mungkin kamu bertanya, “Kenapa follower berada di tengah rombongan?”. Hal ini dikarenakan follower biasanya berisi para pendaki pemula. Di mana, dalam segi pengalaman, pengetahuan dan fisik, mereka tidak bisa bersaing dengan Navigator, Leader dan Sweeper. Untuk itu, follower di taruh di posisi tengah agar mereka aman dan tidak terpisah dari rombongan.

Tugas follower di regu pendakian sangat sederhana, yaitu follower memiliki tugas untuk mematuhi semua perintah dari leader. Dan biasanya, barang bawaan follower tidak seberat barang bawaan pendaki senior. Pada pendakian massal (penmas) atau open trip (OT), banyak orang yang menyebut follower sebagai pendaki sultan. Hehe. Karena mereka bebas memilih urutan di dalam barisan pendaki. Selama ada di belakang leader dan di depan sweeper, mereka aman.

4. Logistik

Logistik adalah posisi untuk seseorang pembawa bahan makanan penting di pendakian. Posisi tim logistik biasanya berada di bagian agak belakang rombongan. Posisi tepatnya berada di depan chef atau di depan sweeper. Biasanya, tim logistik selalu mendapatkan perlindungan ekstra.

Seseorang yang bertugas pada posisi logistik wajib memiliki fisik yang kuat. Karena barang bawaan logistik selalu lebih berat dari pada yang lain. Dia wajib membawa perbekalan air dan makanan pokok lebih banyak. Jadi, tas gunung yang menduduki posisi logistik biasanya lebih besar dari pada yang lain.

Catatan: Adanya tim logistik bukan berarti setiap pendaki tidak membawa bekal makanan. Ini wajib dipahami dulu. Bekal makanan individual tetap wajib bagi setiap pendaki. Karena jika pendaki tersesat dan tidak memiliki bekal pribadi, dia akan kelaparan sebelum tim penyelamat datang. Sampai di sini paham ya? Tim logistik hanya membawa keperluan tambahan untuk makan dan minum secara berkelompok.

5. Chef

Chef adalah posisi untuk seseorang yang memiliki keterampilan mengolah dan memasak bahan makanan untuk pendaki. Posisi chef biasanya berada tepat di depan sweeper dan di belakang tim logistik. Tapi, bisa juga bertukar tempat dengan barisan tim logistik. Selama masih di depan sweeper, chef pasti aman.

Posisi chef wajib diisi oleh orang yang memiliki wawasan luas tentang bahan makanan dan teknik memasak. Dia wajib memiliki keterampilan memasak, memilih bahan makanan, kebutuhan kalori harian pendaki hingga paham survival di alam bebas. Karena dialah yang akan bertanggung jawab dengan kebutuhan gizi dan kalori dari anggota regunya. Kami merekomendasikan untuk memilih chef yang tidak egois dan pandai memasak untuk banyak orang.

6. Sweeper

Sweeper adalah orang yang menempati posisi paling belakang dari regu pendakian. Sweeper bertugas sebagai tim “penyapu”, yaitu orang yang memastikan tidak ada rombongan pendaki atau barang milik regu yang tercecer atau ketinggalan. Tidak banyak orang yang mau untuk menduduki posisi sweeper. Karena posisi ini membutuhkan mental, fisik dan kesabaran yang tinggi.

Misalnya:

  • Sweeper selalu berjalan di urutan paling belakang. Jika regu pendakian berjalan di malam hari, bisa kamu bayangkan, betapa seramnya berada di posisi paling belakang. Belum kalau jarak antara leader dan sweeper terpisah jauh, wow, horor banget itu! Sudah di posisi belakang, nggak ada teman ngobrol, datangnya paling belakangan lagi. Awesome, bukan?
  • Jika ada anggota pendakian yang sakit, sweeper wajib menemaninya sampai kondisi pendaki membaik. Jadi, bisa dipastikan, sweeper akan mencapai puncak paling terakhir. Dan sampai basecamp juga pada urutan terakhir. Tanpa fisik yang kuat, sweeper tidak bisa melindungi anggota tim yang lain.
  • Sweeper wajib mengikuti ritme berjalan orang paling lemah di rombongan. Jadi, dia tidak bisa berjalan cepat atau membuat ritme sendiri. Butuh kesabaran ekstra untuk posisi ini. Karena saat navigator dan leader yang ada di depan bisa istirahat, sweeper tetap berjaga.

Itulah posisi dan tugas di dalam formasi pendakian. Dalam praktiknya, pendaki senior dapat menjabat lebih dari satu posisi. Kondisi itu terjadi pada formasi pendakian yang terdiri dari tim kecil. Misalnya, regu pendakian yang terdiri dari 4 orang.

  • Sweeper bisa merangkap tugas sebagai chef.
  • Chef bisa merangkap tugas sebagai logistik.
  • Leader bisa merangkap tugas menjadi navigator.

Intinya, selama pendaki itu punya pengalaman dan sudah senior, semua serba fleksible. Terlebih untuk independen hiker berpengalaman.

Apakah butuh tim medis di dalam formasi pendakian?

Secara tidak tertulis, setiap pendaki wajib belajar tentang dasar-dasar P3K sebelum melakukan aktivitas alam bebas. Dengan begitu, setiap pendaki adalah seorang petugas medis untuk dirinya sendiri. Pada formasi pendakian kecil, pendaki senior selalu merangkap sebagai tim medis. Biasanya, leader dan sweeper mengambil peran tersebut. Leader dan sweeper biasanya memiliki keterampilan ekstra di bidang medis dan evakuasi korban. Karena leader dan sweeper memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari pada yang lain.

Namun, kami perlu menggaris bawahi pada rombongan pendakian dalam skala besar, misalnya pendakian massal. Ini wajib memiliki tim medis khusus. Karena kamu bergerak dan membawa orang dalam jumlah banyak. Jika terjadi insiden, tim medis yang berjaga dapat menjadi penolong pertama sebelum pendaki di evakuasi oleh tim penyelamat.

Cara komunikasi selama perjalanan

Setelah kamu paham posisi dan tugas dari masing-masing jabatan di formasi pendakian. Kamu perlu memahami cara berkomunikasi selama perjalanan. Ada tiga komunikasi di dalam rombongan pendakian:

  • Pertama, komunikasi visual. Komunikasi visual adalah bahasa isyarat yang diberikan oleh navigator atau leader untuk menginformasikan medan pendakian. Leader dapat menggunakan bahasa isyarat dengan tangan, bendera, atau ranting. Intinya, seluruh anggota pendakian dapat memahami bahasa isyarat dengan mudah secara visual. Jadi, jika ada ancaman bahaya, tim follower, logistik dan chef bisa bersiap dan siaga.
  • Kedua, komunikasi verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi antar regu pendaki dengan suara. Kamu bisa berkomunikasi secara verbal dengan berbicara langsung, memakai peluit atau menggunakan lonceng. Intinya, komunikasi verbal cenderung menggunakan suara sebagai media komunikasi.
  • Ketiga, komunikasi dengan alat bantu. Semakin canggihnya teknologi, komunikasi di dalam rombongan pendakian semakin mudah. Kamu bisa memanfaatkan Handy Talky (HT) untuk melancarkan komunikasi di dalam formasi pendakian. Biasanya, orang yang bertugas membawa Handy Talky adalah Leader dan Sweeper. Jadi, jika rombongan terpisah terlalu jauh, atau ada barang bawaan yang jatuh, sweeper dan leader bisa saling berkomunikasi.

Catatan: Komunikasi di dalam regu pendakian itu sangat penting. Selain untuk menjaga kekompakan tim, komunikasi juga bisa berfungsi untuk mencairkan suasana dan memotivasi anggota pendakian. Jadi, saat terjadi insiden atau hal horor di tengah perjalanan, keadaan rombongan tetap kondusif.

Poin penting terkait formasi pendakian

Bentuk formasi pendakian biasanya terdiri dari satu baris regu pendaki. Urutan posisi dari depan ke belakang adalah navigator, leader, follower, logistik, chef, dan terakhir sweeper. Setiap jabatan di formasi pendakian memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pastikan selalu memilih orang yang cocok untuk mengisi setiap posisi. Karena kesuksesan pendakian ditentukan oleh kekompakan regu pendaki.

Demikian uraian lengkap tentang topik formasi pendakian. Apakah ada informasi penting yang kami lewatkan? Jika ada silakan ingatkan kami melalui kolom komentar ya. Akhir kata, semoga ilmu ini bisa kamu terapkan dengan baik. Dengan begitu, tim pendakianmu bisa meminimalisir resiko kecelakaan di gunung. Salam lestari.

Baca lebih lanjut: Cara Mendaki gunung agar Tidak Cepat Lelah »

Previous Article

Tips Foto di Gunung

Next Article

Camping Ground Terbaik di Jawa Tengah

Satu pemikiran pada “Formasi Pendakian”

  1. Pengalaman saya setiap pendakian beregu,
    Leader : Orang yang paham Medan, baik secara fisik, mental, memiliki jiwa kepemimpinan dan pengetahuan dasar pendakian
    Belay : ditempatkan pada posisi pendamping follower, memiliki komunikasi yang baik, penyemangat, motivator dan pengetahuan dasar yang baik.
    Swiper : barisan terakhir, memiliki fisik yang baik, bertanggung jawab atas perbekalan, peralatan pendakian, paham akan tindakan medis, pengetahuan Medan yang baik, kemampuan komunikasi dan navigasi.

    Tugas setiap bagian sesuai dengan berapa banyak jumlah orang dalam regu pendakian.

    Balas

Tinggalkan komentar