Beranda » Tanya Jawab » Bolehkah Mendaki Gunung dengan Jumlah Ganjil?

Bolehkah Mendaki Gunung dengan Jumlah Ganjil?

Banyak mitos yang beredar di kalangan pendaki tentang kisah mistis dan nasib sial saat mendaki gunung dengan jumlah ganjil. Mitos ini semakin kuat setelah banyak konten misteri yang mengangkat sisi mistis saat pendakian gunung berjumlah ganjil. Sampai akhirnya, banyak pendaki pemula yang bertanya, “Sebenarnya, bolehkah mendaki gunung dengan jumlah ganjil?”.

Saat ini, belum ada aturan resmi di Indonesia yang melarang pendakian gunung dengan jumlah ganjil. Pendaki dengan rombongan berjumlah 3, 5, 7, 9, atau 11 orang, tetap boleh mendaki. Akan tetapi, ada beberapa petugas gunung yang menghimbau untuk tidak melakukan pendakian tunggal seorang diri (solo hiking). Misalnya, untuk pendakian solo hiking di gunung Carstensz Pyramid, Gunung Kerinci dan Gunung Arjuno. Petugas basecamp melarang solo hiking pada gunung tersebut demi keselamatan pendaki. Hal ini karena jalur pendakian panjang, medan gunung sangat ekstrim dan ada ancaman hewan buas.

Untuk lebih jelasnya, kami akan mengulas mitos dan fakta mendaki gunung dalam jumlah ganjil di pembahasan. Penasaran? Yuk, lanjut baca sampai selesai.

Mitos tentang naik gunung dalam jumlah ganjil

Ada larangan tidak tertulis di beberapa gunung di Indonesia terkait mendaki gunung dalam jumlah ganjil. Misalnya, di gunung Lawu, gunung Slamet, gunung Arjuno, gunung Welirang dan gunung Semeru. Berdasarkan mitos yang beredar, pendaki yang memaksakan diri naik ke gunung tersebut, biasanya akan bernasib buruk. Beberapa mitos yang beredar, diantaranya:

  1. Jin gunung akan mengganggu satu pendaki yang paling lemah di dalam rombongan yang berjumlah ganjil. Ada yang diganggu dengan suara-suara, penampakan hingga kerasukan.
  2. Jin gunung akan berubah menjadi sosok pendaki gunung dan ikut rombongan ke puncak. Jadi, dia menggenapi rombongan tersebut.
  3. Rombongan pendaki akan sering mendapatkan kesialan, atau musibah. Misalnya, tersesat, cuaca buruk hingga suasana malam hari yang mencekam.
  4. Ada anggota pendakian yang harus hilang atau tersesat, sebagai tumbal jika ada anggota pendakian yang melanggar pantangan di gunung.
  5. Rombongan pendaki akan kesulitan mencapai puncak.

Itulah beberapa mitos yang beredar dari mulut ke mulut. Memang terlihat menyeramkan, jika kamu langsung menelannya mentah-mentah!

Apakah mitos itu benar adanya?

Mitos ini memang ada, akan tetapi, saat kami mencari sumbernya, kami tidak mendapatkan informasi yang valid.

  • Dari mana asal mitosnya?
  • Kejadian apa yang melatari hal ini?
  • Apakah mitos ini berlaku untuk pendaki usia di bawah 18 tahun? Atau semua pendaki?
  • Apakah semua rombongan pendaki yang berjumlah ganjil mengalami hal yang sama?

Ternyata kami tidak menemukan jawaban yang pasti. Semua yang kami telusuri berakhir dengan argumen “katanya”. Jadi, mitos ini seperti buah bibir yang mengakrabkan obrolan pendaki di warung kopi.

Apakah makhluk-makhluk astral itu tidak mengganggu? Sejujurnya, kita hidup berdampingan dengan makhluk tersebut. Jin & manusia hidup berdampingan tapi di alam yang berbeda. Saat kamu mendaki ke gunung, anggap saja kamu sebagai tamu di gunung. Selama tamu berperilaku sopan dan tidak melakukan perilaku menyimpang di gunung, para penunggu gunung tidak akan menjahili kamu. Mereka mengganggu, pasti ada sebabnya. Sampai di sini paham ya?

Apakah pendaki gunung harus merasa takut saat mendaki dengan jumlah ganjil? Kami jawab dengan jelas, “tidak.”. Selama iman pendaki kuat, pendaki tidak berperilaku menyimpang di gunung dan pendaki naik dengan formasi pendakian tepat, semua aman.

Law of attraction. Saat pendaki gunung berpikiran positif, alam semesta akan membantu mendekatkan segala hal positif kepadanya. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Jadi, jangan terlalu berprasangka buruh selama pendakian. Karena pikiran negatif akan mengundang kehadiran makhluk-makhluk beraura negatif.

Fakta tentang mendaki gunung dalam jumlah ganjil

Setelah kami membahas tentang mitos naik gunung dalam jumlah ganjil, kami akan bahas fakta di lapangan. Saat ini, mitos mendaki gunung dalam jumlah ganjil sudah tidak terlalu dihiraukan para pendaki.

  • Tahun 2018, rombongan pendaki gunung dari Solo, mendaki ke gunung Lawu dengan regu pendakian berjumlah 7 orang. Komposisi pendaki adalah 4 orang pendaki senior dan 3 pendaki pemula. Semua pendaki berhasil mencapai puncak dengan selamat.
  • Tahun 2019, 3 pendaki asal Sleman naik ke gunung Merbabu, via jalur Suwanting. Komposisi tim pendaki: 2 pendaki senior & 1 pendaki pemula. Mereka mendaki dengan lancar dan mendapatkan cuaca yang cerah saat di puncak. Tidak ada gangguan makhluk astral dan hewan buas. Dan perjalanan berjalan lancar dari berangkat, muncak sampai pulang ke rumah.
  • Tahun 2020, pendaki asal Jawa Timur melakukan solo hiking ke gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik. Pendakian berjalan lancar mulai dari basecamp hingga puncak. Dan tidak ada kendala seperti mitos-mitos yang beredar.

Jadi, daripada mikirin mitos yang simpang siur, lebih baik fokus pada realita. Pendakian di gunung itu tidak semenakutkan yang ada di kisah mistis di YouTube. Hehe. Selama kamu memiliki persiapan yang baik dan bersama tim pendakian yang tepat, kamu aman. Pendaki tinggal memastikan mematuhi prosedur pendakian gunung yang ada di basecamp, misalnya:

  • Pendaki tidak sedang dalam kondisi sakit atau dalam masa perawatan.
  • Pendaki wajib memiliki fisik yang sehat dan bugar. Jika perlu, sebelum mendaki kamu cek kesehatan di Puskesmas terlebih dahulu.
  • Pendaki melakukan registrasi terlebih dahulu di pos pendaftaran untuk mendapatkan ijin mendaki.
  • Pendaki membawa perlengkapan mendaki gunung yang memadai sesuai lama perjalanan mendaki dan medan yang akan dilalui.
  • Pengecekan identitas dan jumlah rombongan.
  • Pendaki menerapkan etika pendakian dengan baik.

Sampai di sini paham ya?

Selama kamu yakin, bahwa fisik, mental dan tim pendakian kamu mampu, mendaki gunung dalam jumlah ganjil itu nggak masalah. Karena faktanya, hari ini banyak pendaki dalam jumlah ganjil yang aman saat pendakian. Bahkan ada juga pegiat solo hiking di Indonesia. Jadi, karena tidak semua orang mengalami hal yang menakutkan seperti yang ada di mitos, berarti kenapa kamu takut?

Catatan: Pendaki pemula tidak boleh melakukan solo hiking atau mendaki tanpa pengawasan dari pendaki senior. Bukan karena mitos mendaki gunung ganjil, ini lebih pada kurangnya penguasaan medan pendakian dan pengalaman menjelajahi gunung.

Esensi jumlah regu pendakian dalam ekspedisi mendaki gunung

Sebenarnya apa esensi dari jumlah pendaki dalam kelompok pendakian? Esensi utamanya adalah manajemen resiko. Di mana, pendakian dengan jumlah kelompok yang pas dan komposisi yang tepat akan meminimalisir resiko kecelakaan di gunung.

Jika boleh kami garis bawahi, daripada memusingkan mendaki dalam jumlah ganjil, lebih baik kamu lihat komposisi tim.

  • Apakah komposisi tim kamu sudah cukup baik untuk menaklukkan medan pendakian ini?
  • Apakah formasi pendakian sudah tepat?
  • Apakah ada navigator dan leader yang handal?
  • Apakah komposisi tim terlalu banyak pemula?
  • Apakah perlu menyewa pemandu gunung?
  • Apakah semua pendaki sudah menguasai medan pendakian?
  • Apakah ada pendaki senior yang dapat diandalkan jika ada pendaki lain yang terluka atau sakit?

Menurut kami, hal tersebut lebih penting dari pada meributkan ganjil atau genap. Adanya navigator dan leader yang berpengalaman sangat menentukan keselamatan pendakian. Mereka bisa memberikan pengarahan tentang etika pendakian, keselamatan di gunung dan survival dasar jika diperlukan. Dan yang paling penting, jika ada pendaki yang terluka, sakit atau hilang ada orang yang paham dalam mencari bantuan.

Jika kamu ragu, konsultasi terlebih dahulu dengan petugas basecamp. Hindari mendaki secara ilegal

Setelah membaca artikel ini, mungkin kamu masih ragu akan mitos mendaki gunung dalam jumlah ganjil di beberapa gunung angker. Jika kamu masih ragu, sebaiknya kamu konsultasi terlebih dahulu dengan petugas basecamp. Mereka lebih paham dengan medan pendakian dan potensi bahaya yang mungkin terjadi. Gali informasi dari mereka, jangan malah takut dengan petugas basecamp. Mereka memberi nasihat itu demi keselamatan pendaki. Jadi, jangan takut dengan petugas pendakian, apa lagi sampai mendaki secara ilegal. Itu lebih berbahaya.

Akhir kata, semoga kebimbangan tentang “mendaki gunung dalam jumlah ganjil” terjawab. Selama kamu memiliki komposisi tim pendakian yang baik, ada navigator dan leader yang berpengalaman, semua akan baik-baik saja. Sebelum saya tutup, jika ada informasi yang masih kurang jelas, silakan tinggalkan pertanyaan melalui kolom komentar di bawah.

Baca lebih lanjut: Kenapa Pendaki Gunung Bisa Hilang? »

Previous Article

Tips Mendirikan Tenda di Gunung

Next Article

Kenapa di Kalimantan Tidak Ada Gunung Berapi?

Tinggalkan komentar