Pelajaran Hidup dari Mendaki Gunung

Kenapa pendaki gunung lebih tangguh dalam menghadapi cobaan dari pada orang biasa? Sebenarnya, apa yang mereka dapat selama menjalani hobi mendaki gunung? Jawaban sederhananya adalah pendaki mendapatkan pelajaran hidup langsung dari alam dan komunitas pendaki gunung. Pendaki yang dapat mengambil hikmah dari setiap ekspedisi mendaki gunung, dia akan memperoleh banyak pelajaran hidup yang berharga. Berikut 10 pelajaran hidup dari mendaki gunung:

Seperti apa sih detail pelajaran hidup dari mendaki gunung? Yuk, simak pembahasan lengkap dari Napaktilas berikut ini.

1. Preparation is key for success

Pelajaran hidup pertama kali yang pendaki peroleh dari mendaki gunung adalah pentingnya tahap persiapan. Tahap persiapan adalah tahap di mana tim pendakian merencanakan ekspedisi pendakian, di antaranya:

Apabila kamu gagal dalam tahap persiapan, pendakian kamu tidak akan sukses. Hal paling parah saat meremehkan tahap persiapan & perencanaan adalah kamu akan masuk ke dalam mode survival. Entah survival karena tersesat, kehabisan bahan makanan atau karena tim tidak kompak.

Bagi pendaki yang telah mendaki puluhan gunung dengan berbagai jenis tim pendakian, mereka pasti paham satu hal.

Preparation is key for success

Pelajaran hidup itulah yang menjadi pegangan hidup pendaki saat bekerja dan bersosialisasi. Di mana pun pendaki berada, jika kita ingin sukses mencapai tujuan, maka persiapkan segala sesuatu dengan baik. Dengan begitu, biarpun ada rintangan menghadang, pendaki sudah siap dengan strategi terbaik. Persiapan, perencanaan dan perlengkapan adalah amunisi untuk mencapai kesuksesan.

2. Keep on going

Kebanyakan manusia modern itu sangat pintar. Pintar membuat alasan, pintar mengeluh dan pintar menunda sesuatu. Saat mereka mencicipi kegiatan mendaki gunung, mereka langsung melongo. “Kenapa banyak orang rela berjalan kaki sampai puncak gunung? Bukankah ini melelahkan?” kata mereka dalam hati. “Ini kegiatan yang nggak berfaedah!”.

Terlihat jelas, mereka mulai mengeluh dan menyalahkan keadaan. Akibatnya, motivasi mereka hilang, jalan jadi tidak konsentrasi dan akhirnya menyerah di tengah jalan. Padahal, jika mereka mau melangkahkan kaki selangkah demi selangkah tanpa mengeluh, mereka akan sukses mencapai puncak. As simple as that!

Pelajaran hidup dari mendaki gunung yang ke-2 adalah:

Keep on going & never give up

Sesimple itu! Saat kamu ragu, takut, atau gelisah membayangkan masa depan yang suram, keep on going! Bergeraklah, melangkahlah, setiap langkahmu akan menghapus rasa takut dan keraguanmu. Dan akhirnya kamu akan sampai ke tujuan. Ke puncak yang kamu inginkan. Pegang pelajaran hidup ini, “Keep on going & never give up”.

Tuhan pasti telah menyediakan rencana terbaik untuk orang-orang yang mau bergerak ke arah yang lebih baik. Selama tujuan kamu mulia dan jelas, lanjutkan, jangan berhenti. Tuhan akan ikut andail dalam mempermudah jalanmu.

3. Be tough as nails

Kegiatan mendaki gunung itu termasuk dalam olahraga ekstrem. Artinya, hanya orang-orang tangguh yang bisa mengikuti pendakian. Bayangkan saja:

  • Pendaki harus menggendong perlengkapan mendaki gunung & logistik saat mendaki. Beban tas gunung biasanya sekitar 8-15kg.
  • Pendaki harus berjalan kaki dari basecamp sampai puncak.
  • Pendaki harus menyiapkan perbekalan, mendirikan tenda dan memasak sendiri.
  • Pendaki harus belajar teknik dasar mendaki gunung, survival dan P3K.
  • Pendaki harus mempersiapkan fisik dan mental sebelum melakukan ekspedisi pendakian.

Semua itu tidak mudah. Apalagi buat pendaki yang tergabung dalam organisasi pencinta alam. Pendidikan dasar (Diklat) pencinta alam itu berat. Maka dari itu, hanya orang-orang yang tangguh yang menekuni hobi mendaki gunung. Semua proses penempaan itu membuat pendaki menjadi “tough people!”

Pelajaran hidup dari mendaki gunung yang ke-3 adalah:

Be tough as nails!

Berkat penempaan diri yang terus menerus, pendaki menjadi manusia tangguh. Kami mengibaratkannya seperti sebuah paku. Maka filosofi yang bisa kamu ambil adalah jadilah orang yang tangguh seperti paku. Paku itu kuat, tangguh dan runcing di ujungnya. Artinya, pendaki yang telah ditempa dengan keras oleh alam akan menjadi orang yang tangguh dan kuat. Di mana, saat dia punya tujuan, dia akan fokus pada ujung tujuan itu. Apa pun rintangannya, dia akan terjang. Dia akan menerobos, layaknya sebuah paku menghujam kerasnya kayu dan beton.

Banyak luka gores? Iya.

Sakit? Iya.

Pedih? Iya.

Tapi, seseorang pendaki yang sudah memegang teguh pelajaran hidup “be tough as nails!”, tidak akan mundur. Darah, air mata dan penderitaan tidak akan membuatnya berhenti mengejar impian. Kami adalah orang yang dididik di alam rimba, fokus pada tujuan, fokus, fokus, fokus. Pasti, sukses sampai ke tujuan. Dan nyatanya banyak pendaki sukses di lingkungan masing-masing.

4. Just do it

Banyak orang pintar sulit memulai sesuatu karena takut akan ancaman yang mereka ciptakan sendiri. Mau mulai bisnis takut rugi. Mau mulai hobi baru takut di cap aneh. Mau mulai merantau takut nggak punya teman. Ketakutan semacam ini banyak menghantui banyak orang.

Kalau sudah menjadi ketakutan yang tertanam di alam bawah sadar, sangat sulit untuk keluar. Maka, cobalah mendaki gunung. Dengan mendaki gunung kamu akan mendapatkan pelajaran hidup yang luar biasa untuk melawan rasa takut tersebut.

Pelajaran hidup untuk melawan rasa takut memulai sesuatu yang bisa kamu dapat dari mendaki gunung adalah

Just do it!

Ya, just do it! Mulai aja dulu.

Awalnya, para pendaki pemula itu menganggap mendaki gunung itu mengerikan. Di mana, sekelompok orang melintasi hutan rimba selama beberapa hari. Kegelisahan mereka, di antaranya:

  • Bagaimana kalau diserang harimau?
  • Bagaimana kalau tersesat?
  • Bagaimana jika gunung yang didaki meletus?
  • Bagaimana jika mengalami kecelakaan di atas gunung?

Semua kekhawatiran itu sudah ada solusinya. Di mana, setiap basecamp sudah memberikan rambu-rambu pendakian yang jelas. Jika kondisi gunung sedang ekstrem, pendaki dilarang melakukan pendakian. Terakhir, jika ada kecelakaan di gunung, ada tim SAR yang siap sedia menyelamatkan para pendaki yang butuh pertolongan. Jadi, “Just do it!”. Mulai saja dulu.

Mungkin terdengar kata-kata sederhana, tapi pelajaran hidup dari “just do it” itu sangat bermakna mendalam. Jika kamu aplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, kamu dapat menangkap peluang jauh lebih cepat daripada orang lain.

5. Be a warrior

Pendaki itu seperti prajurit. Di mana, sebelum menjalankan tugas, perlu melakukan latihan fisik, persiapan mental, mempersiapkan perbekalan dan menyusun perencanaan. Tahukah kamu, pelajaran hidup layaknya prajurit ini sangat bernilai. Kamu akan digembleng secara fisik dan mental. Tidak lagi jadi seseorang yang cengeng dan tidak berpendirian. Dan yang paling penting adalah terus berlatih untuk menjadi lebih baik.

Maka dari itu, biarpun para pendaki veteran sudah lama tidak naik gunung, tapi semangat mereka tetap membara. Mereka tetap berlatih setiap hari untuk menjaga kebugaran layaknya prajurit militan. Para pendaki militan ini memiliki berbagai keterampilan hidup yang unik, seperti:

  • Kemampuan berpikir taktis.
  • Keterampilan membuat barang tepat guna dari bahan seadanya.
  • Kreatif.
  • Bisa merencanakan sebuah proyek dengan matang.
  • Selalu berhati-hati dalam melangkah.
  • Lebih mementingkan kekompakan tim daripada kepentingan pribadi.
  • Setia kawan.

Semua kemampuan tersebut berasal dari pengalaman mendaki gunung. Jika kamu hidup layaknya prajurit, maka jiwamu akan tumbuh seperti prajurit.

Be a warrior!

Setelah menekuni hobi mendaki gunung, kamu akan tetap berlatih biarpun nggak ada yang nyuruh. Kamu akan berpikir taktis biarpun yang lain nggak mau mencari solusi. Dan terakhir, kamu akan memiliki jiwa setia kawan tinggi saat ada sahabat kamu mengalami masalah.

Itu pelajaran hidup yang sangat berharga. “Be a warrior!”. Jika kamu aplikasikan di dunia kerja profesional, etos kerjamu akan sangat tinggi. Bahkan kamu akan selalu bersemangat setiap hari.

6. Leave your comfort zone

Zona nyaman adalah momok bagi pertumbuhan kreativitas seseorang. Di mana, zona nyaman tidak memunculkan tekanan dan tantangan. Akibatnya, kreativitas dan pertumbuhan seseorang akan berhenti di fase tersebut.

Mendaki gunung akan memaksamu keluar dari zona nyaman. Iya, sih! Mana ada tempat yang nyaman di gunung. Udara dingin, angin kencang dan medan pendakian yang terjal. Nggak ada yang nyaman. Hehe.

Tapi, percayalah, saat kamu mau mendaki gunung kamu akan berterima kasih kepada alam. Karena kamu bisa menjadi lebih kreatif, lebih pintar dan lebih brilian daripada sebelumnya. Alam akan memberimu inspirasi baru, kebijaksanaan baru dan pengalaman batin yang mendalam. Sehingga, mau tidak mau kamu akan dipaksa untuk terus bertumbuh.

Pelajaran hidup dari mendaki gunung berikutnya adalah:

Leave your comfort zone

Kemas tas carriermu, ajak sahabatmu untuk mendaki. Dan segera keluar dari zona nyamanmu. Niscaya kamu akan kembali bertumbuh layaknya anak-anak bahagia menemukan mainan baru. Jika kamu ingin hidup kamu kembali bergerak, leave your comfort zone.

7. Love what you do

Semakin sering kamu mendaki, kamu akan bertemu berbagai tipe pendaki gunung, di antaranya:

  • Solo hiking.
  • Squad hiking.
  • Pendaki cantik.
  • Pendaki piknik.
  • Pendaki selow, dll.

Mendaki itu bukan ajang balap lari. Mendaki itu adalah aktivitas hobi untuk mencari kesenangan. Jadi, love what you do!. Terdengar sederhana, tapi bagi kami sangat berkesan. Pendaki bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk sekedar camping, membuat handcraft, hingga ngopi. Tapi, mereka mencintai apa yang mereka kerjakan. Hingga akhirnya, mereka bisa menciptakan inovasi produk terbaik dari hal yang dicintainya. Misalnya, membuat tenda yang lebih ringan dan kuat. Membuat perlengkapan pendakian secara DIY. Menciptakan produk kopi yang sangat nikmat untuk dinikmati di atas gunung.

Love what you do!

Pelajaran hidup “Love what you do!” sangat powerfull sekali jika kamu terapkan di kehidupan sehari-hari. Kamu akan memiliki tenaga ekstra untuk menyelesaikan pekerjaanmu dengan sebaik mungkin. Alhasil, kamu akan dipercaya oleh banyak orang karena kesungguhanmu. Tidakkah itu menyenangkan?

8. Turn your life into a process

Saat kamu mulai mendaki gunung, kamu akan sadar bahwa kegiatan di alam bebas itu semuanya tidak bisa instan.

  • Jika kamu lapar kamu harus memasak sendiri.
  • Jika kamu pengen kopi, kamu harus memasak air dulu, lalu menyedu kopi. Setelah kopi jadi, baru bisa dinikmati.
  • Jika kamu ingin tidur, kamu perlu mendirikan tenda, menata matras dan menggelar sleeping bag.

Semua butuh proses, tidak ada yang instan. Dengan begitu, dari mendaki gunung kamu akan mendapatkan pelajaran hidup “turn your life into process”. Ya, benar. Hidup itu adalah proses. Proses mengumpulkan, proses membentuk dan proses berbagi.

Turn your life into process

Jika kamu memandang hidup sebagai sebuah proses, maka kamu tidak akan takut mencoba hal baru. Karena setiap proses pasti ada fase uji coba, perbaikan dan penyempurnaan. Begitu juga dengan hidup. Jika kamu gagal dalam hidup, pandanglah itu sebagai proses. Lalu, tarik garis di mana kamu bisa mulai memperbaiki kesalahan-kesalahanmu. Dengan begitu, kamu akan menjadi orang yang selalu optimis. Optimis untuk berproses dalam membangun hidup yang lebih baik.

9. Seize the opportunity

Mendaki gunung juga mengajarkan kita tentang “seize the opportunity”. Seize the opportunity adalah kejelian pendaki dalam menangkap peluang dalam hidup. Saat mendaki, pendaki dilatih oleh alam secara langsung.

  • Jika kamu ingin mendapatkan foto yang cantik, bangunlah saat subuh dan mulailah summit attack. Niscaya, kamu akan mendapatkan pemandangan magical sunrise di atas gunung.
  • Jika kamu ingin mengeksplorasi alam dengan lebih lama, mendakilah pagi hari. Kamu akan melihat keindahan hutan rimba, flora-fauna dan langit yang memukau.
  • Jika kamu ingin melihat pelangi, naiklah ke atas bukit di sore hari setelah hujan reda.
  • Jika kamu kehabisan air, ikatlah plastik diranting yang memiliki dedaunan lebat.
  • Jika kamu kelaparan, jangan diam. Carilah tumbuhan yang bisa dimakan di hutan.

Itulah salah satu momen-momen menangkap peluang yang diajarkan alam. Semuanya tersedia disekitarmu. Kadang, kamu nggak sadar, kalau itu peluang yang bagus untuk dikejar. Kepekaan ini, kalau dilatih dengan baik, akan membuat kamu sukses saat berkarir. Karena kamu paham kapan waktunya menunggu dan kapan waktunya berlari untuk mengejar peluang.

Ingat, peluang itu tidak datang dua kali. Tapi bisa tiga kali atau bahkan lima kali. Selama kamu dalam mode “seize the opportunity”, kamu akan bisa melihat, merasakan dan mengetahui hadirnya peluang. Entah itu, di dalam hidup, bisnis ataupun hubungan percintaan.

10. Always trust your gut

Pelajaran hidup dari mendaki gunung yang terakhir adalah “trust your gut”. Trust your gut itu adalah percaya pada insting pertama yang muncul dari dalam dirimu. Karena itulah bahasa alam bawah sadar saat ingin berkomunikasi.

Aktivitas mendaki gunung secara tidak langsung akan mengaktifkan kembali koneksi jiwa manusia dengan alam.

  • Indera perasa akan menguat.
  • Jiwa manusia semakin sehat.
  • Pikiran menjadi jernih dan lebih bijak.

Kondisi tersebut, membuat insting manusia semakin terasah. Alhasil, kamu dapat semacam ilham atau bisikan hati saat menentukan pilihan. Di sini, kami bukan membicarakan wangsit atau pulung atau semacamnya bisikan alam lain. Ini murni kemampuan manusia yang terlatih. Layaknya, para kolektor dalam mencari barang seni.

Insting yang kami maksud adalah kepekaan jiwa seseorang karena telah melakukan suatu hal secara terus menerus. Misalnya seperti ini:

  • Kamu berada di lingkungan pelukis hebat.
  • Setiap hari kamu menghadiri lelang lukisan dengan harga mahal.
  • Kamu terus mengasah kemampuan penilaianmu setiap hari secara terus menerus.
  • Dan saat kamu traveling ke negara lain, kamu melihat sebuah lukisan sederhana. Matamu tidak menaruh perhatian lebih pada lukisan tersebut. Tapi, instingmu menggerakkan tubuhmu ke sana.
  • Dan akhirnya, ada dorongan kuat untuk membeli lukisan tersebut.
  • Setelah sampai di rumah, kamu baru sadar nilai artistik dari lukisan ini sangat tinggi dan daya jualnya mahal.
  • Dan saat ada lelang, kamu coba memamerkan lukisan tersebut dan benar. Harga jualnya sangat mahal.
  • Pada tahap inilah kamu bersyukur, kamu beli di saat yang tepat. Inilah hasil dari akumulasi terus-menerus dari sebuah insting.

Nah, kemampuan ini biasanya hanya dimiliki oleh sebagian orang. Karena banyak orang lebih mengandalkan analisa dari pada insting. Padahal insting yang dilatih dengan baik dapat menjadi trigger dalam mengambil peluang dengan cepat. Jika kamu pengusaha, kamu pasti paham apa yang kami maksud. Karena setiap peluang bisnis kadang lewat dengan cepat. Jika kamu bisa menaksir peluang dengan tepat, kamu bisa profit besar dengan cepat.

Itulah 10 pelajaran hidup dari mendaki gunung yang bisa kami bagikan. Jika ada pertanyaan, silakan tinggalkan melalui kolom komentar di bawah.

Baca lebih lanjut: Manfaat Mendaki Gunung »

Previous Article

Cara Memilih Sepatu Gunung

Next Article

Gunung Tertinggi di Indonesia

Tinggalkan komentar