Kenapa Pendaki Gunung Bisa Hilang?

Kita sering mendengar tentang kasus pendaki gunung hilang dan tidak diketemukan. Karena tidak kunjung ketemu, banyak orang mengaitkan kasus pendaki hilang dengan hal-hal mistis. Apakah benar-benar kasus-kasus tersebut karena hal gaib (metafisika) atau karena keteledoran pendaki?

Pendaki gunung dinyatakan hilang ketika pendaki tidak kembali ke basecamp sampai batas waktu yang ditentukan saat perijinan. Kebanyakan kasus pendaki hilang dikarenakan pendaki tersesat atau keluar dari jalur pendakian. Sehingga, pendaki tidak bisa kembali ke basecamp tepat waktu. Menurut data statistik, 67% pendaki hilang karena human error. 32% pendaki hilang karena cuaca buruk. Dan kurang dari 1% pendaki hilang karena kejadian metafisika.

Dari data tim SAR, kasus pendaki hilang kebanyakan terjadi pada pendaki pemula. Di mana, fisik, mental dan penguasaan medan dari pendaki pemula masih kurang memadai. Alhasil, banyak human error yang memicu pendaki tersesat, jatuh ke jurang hingga hilang. Kami prihatin dengan kondisi tersebut, sehingga kami membuat artikel ini. Berikut 7 penyebab pendaki hilang di gunung:

Mulai penasaran? Untuk lebih jelasnya, baca pembahasan artikel ini sampai selesai.

1. Pendaki salah memilih jalan

Urutan pertama penyebab pendaki gunung bisa hilang adalah pendaki salah memilih jalan. Kasus salah jalan ini sering terjadi pada pendaki pemula yang belum menguasai medan pendakian. Biasanya, karena keinginan mencapai puncak menggebu-gebu, mereka hanya modal nekat. Ya, nekat mendaki dengan kondisi pengetahuan yang minim dan persiapan yang terbatas. Alat navigasi nggak bawa dan ilmu navigasi darat belum memadai.

Beberapa kasus pendaki hilang karena salah memilih jalan:

  • Di tahun 2015, ada kasus 7 pendaki pemula hilang di gunung Lawu selama 3 hari. Di mana, 5 pendaki berusia 18 tahun dan 2 pendaki berusia di bawah 12 tahun. Mereka mendaki melalui jalur Cemoro Kandang secara ilegal tanpa mengantongi ijin dari pihak basecamp. Karena salah memilih jalan, ke-7 pendaki ini tersesat di dalam hutan. Untungnya, orang tua dari salah satu anak tersebut datang ke basecamp pendakian untuk melaporkan kasus kehilangan anak. Sampai akhirnya, tim SAR melakukan upaya pencarian dan menemukan mereka di area sekitar puncak, di dekat warung Mbok Yem. Beruntungnya, semua anak tersebut selamat.
  • Di tahun 2018, ada kasus pendaki pemula yang hilang di gunung Slamet selama sebulan. Rombongan pendaki ini berjumlah 4 orang. Mereka mendaki melalui jalur Bambangan secara ilegal jadi mereka tidak melakukan registrasi di basecamp Bambangan. Saat turun gunung, rombongan tersesat di pos 7. Di situ, ada satu teman pendaki yang hilang. Sebulan kemudian, pendaki yang hilang di gunung Slamet tersebut ditemukan di anakan sungai Pelus dalam kondisi meninggal dunia. Jenasah korban tinggal tulang belulang.

Kasus pendaki pemula tersesat dan hilang masih sering terjadi sampai sekarang. Di mana, pendaki pemula terlalu percaya diri dan sok jagoan menerabas hutan. Padahal mereka kurang menguasai medan pendakian, tidak membawa alat navigasi dan perlengkapan mendaki gunung yang dibawa kurang memadai. Miris memang! Tolong, jangan diulangi ya!

Tips agar tidak salah memilih jalan saat mendaki:

  1. Selalu mendaki gunung dengan formasi pendakian yang baik. Minimal ada 2 pendaki senior yang sudah pernah ke puncak & paham medan pendakian.
  2. Jika tidak ada pendaki senior, sebaiknya kamu menyewa jasa pemandu dari basecamp. Lebih baik membayar pemandu dari pada hilang di dalam hutan belantara.
  3. Selalu bawa alat navigasi saat mendaki gunung, syukur-syukur punya Garmin GPS Tracking.

2. Banyak percabangan jalan yang membingungkan

Penyebab pendaki gunung bisa hilang selanjutnya adalah banyaknya percabangan jalan yang membingungkan. Saat mendaki gunung, kamu akan menemukan banyak jalur percabangan. Di mana, hanya ada satu jalur yang dapat mengantarkan kamu ke puncak. Untuk itu, kamu harus berhati-hati. Percabangan jalur di gunung tercipta karena beberapa hal:

  • Pertama, jalur percabangan sengaja dibuat oleh manusia untuk mempermudah pekerjaan warga saat ingin ke hutan. Misalnya, warga lereng gunung ingin berburu, mencari tanaman obat, mencari rumput hingga mencari kayu bakar.
  • Kedua, jalur percabangan tercipta karena menjadi titik pertemuan dari berbagai jalur pendakian. Misalnya, percabangan jalur pendakian Cemoro Sewu & Cemoro Kandang di gunung Lawu.
  • Ketiga, jalur percabangan tercipta secara tidak sengaja karena ada hewan berukuran besar yang melewati jalur tersebut. Misalnya, babi hutan, kijang, rusa, macan, beruang, dll.
  • Terakhir, jalur percabangan tercipta karena faktor alam. Misalnya, aliran air, tanah longsor, hingga lahar dingin.

Catatan: Jalan yang dibuat hewan itu mudah dikenali. Ciri-cirinya, jalur berukuran sempit, banyak rumput yang roboh secara tidak beraturan, dan ujung jalur buntu. Jalur buatan manusia biasanya berukuran besar, ada papan petunjuk arah, terdapat jejak aktivitas manusia.

Untuk gunung yang sudah terkenal, petugas basecamp biasanya memasang plakat penunjuk arah ke puncak di setiap percabangan jalan. Jadi, asalkan kamu konsentrasi, kamu pasti dapat naik dan turun gunung dengan lancar. Akan tetapi, untuk jalur pendakian yang masih sepi pengunjung, hanya ada sedikit papan penunjuk arah.

Catatan: Ada atau tidaknya jalur penunjuk arah, sebagai pendaki kamu tetap harus membawa alat navigasi. Karena kadang karena faktor alam, papan penunjuk arah bisa roboh, bergeser atau bahkan hilang.

Saat kamu mendaki gunung di jalur pendakian yang minim penunjuk arah, kamu harus berhati-hati saat melewati kawasan ini. Berikut ini beberapa tempat di gunung yang sering membuat pendaki tersesat:

  1. Area hutan.
  2. Lahan perkebunan & ladang.
  3. Sabana di tengah hutan.
  4. Persimpangan titik temu berbagai jalur pendakian.
  5. Kawasan puncak gunung merapi.

Catatan: Jika kamu melintasi kelima area tersebut, selalu waspada dan konsentrasi. Perhatikan tanda-tanda penunjuk arah di jalur pendakian. Jika ada kabut tebal, sebaiknya segera berkumpul dan mencari tanah lapang. Tunggu sampai kabut hilang baru melanjutkan perjalanan.

Tips agar tidak bingung saat menemukan percabangan jalan ketika mendaki:

  1. Selalu cari papan penunjuk arah terlebih dahulu sebelum memutuskan jalan mana yang akan dipilih. Kadang papan penunjuk arah ada di sudut jalan, di pohon atau tertutup semak-semak.
  2. Jika kamu tidak menemukan penunjuk arah, dan kamu ragu-ragu saat mengambil keputusan, pastikan untuk menugaskan navigator untuk mengecek jalur terlebih dahulu.
  3. Jika navigator dan leader ragu-ragu, segera pasang stripline atau breadcrumb dari rafia berwarna terang di jalur yang kamu lalui. Ikat aja di semak-semak atau pohon. Jarak setiap stripline maksimal 10 meter. Jadi, saat kamu menemukan jalan buntu dan ingin kembali ke tempat percabangan, kamu tinggal mengikuti stripline tersebut.

3. Adanya kabut tebal yang membatasi jarak pandang

Penyebab pendaki gunung hilang berikutnya adalah munculnya kabut tebal. Kabut adalah fenomena alam yang terjadi di mana angin lembah naik ke atas gunung dengan membawa banyak uap air. Pada musim hujan, kabut di gunung bisa sangat tebal. Saat kondisi kabut tebal, jarak pandang kamu akan sangat terbatas, yaitu berkisar 2-5 meter. Kondisi ini sangat berbahaya. Karena kalau kabut tebal terjadi di tengah hutan atau di area puncak, pendaki akan kesulitan menemukan jalur pendakian yang benar. Lintasan kamu bergeser berapa derajat saja, kamu bisa langsung keluar dari jalur pendakian. Alhasil, kamu berjalan ke arah yang salah dan tersesat.

Contoh beberapa kasus pendaki hilang karena kabut:

  • Kasus pendaki hilang ini terjadi di gunung Sindoro, 2015. Kala itu ada 6 orang rombongan pendaki dari Klaten, Jawa Tengah. Singkat cerita, 3 orang tidak melanjutkan perjalanan dan mendirikan tenda di pos 2. Sedangkan 3 orang sisanya melanjutkan untuk ke puncak. Di tengah jalan, ketiga pendaki ini terhalang oleh kabut tebal. Jarak pandang sangat terbatas, dua orang memutuskan untuk berhenti sejenak, dan satu orang tetap berjalan perlahan. Setelah kabut hilang, ketiga pendaki ingin berkumpul, tapi ternyata salah satu teman mereka hilang saat ada kabut tebal tersebut.
  • Kasus pendaki tersesat karena kabut kembali terjadi tahun 2020. Lokasinya di gunung Muria. Kronologinya, ada 3 pendaki gunung yang melakukan ekspedisi ke puncak gunung Muria. Saat mau turun gunung, tiba-tiba cuaca berubah. Kabut tebal datang disertai gerimis. Karena jarak pandang terbatas dan kurang menguasai medan pendakian, akhirnya, ketiga pendaki keluar dari jalur dan tersesat. Pendaki sempat dinyatakan hilang selama beberapa hari. Tapi, untungnya, mereka semua selamat setelah pihak basecamp meminta bantuan tim SAR.

Tips agar tidak hilang saat kabut tebal:

  1. Perkecil jarak dengan rombongan pendakian. Dan segera cari tanah lapang untuk beristirahat dan menyusun strategi terbaik.
  2. Pada kondisi ekstrim, misalnya kabut tebal saat menuruni puncak gunung Slamet atau Semeru, Kamu harus membunyikan peluit untuk meminta petunjuk arah dari pendaki yang berada di Pelawangan. Pada kondisi kabut tebal, jangan sampai terpisah dengan rombongan. Navigator dapat menggunakan tali yang diikat di badan dan menyuruh semua pendaki berpegangan pada bentangan tali tersebut agar tidak terpisah.
  3. Tetap tenang, terus berfikir secara rasional dan jangan melamun. Berdoa dan berpasrah diri kepada Tuhan agar diberi keselamatan lahir dan batin.

4. Pendaki jatuh ke jurang

Ada beberapa kasus pendaki gunung hilang karena dia jatuh ke jurang. Kasus pendaki jatuh ke jurang ini terjadi karena beberapa hal:

  • Pertama, pendaki memaksakan diri untuk menerobos kabut gunung yang tebal dalam kondisi ketakutan. Jadi, pendaki kurang waspada dalam memilih jalan dan berakhir di jurang.
  • Kedua, pendaki terpisah dari rombongan dan berjalan sendirian menembus gelapnya hutan. Kita tahu, di hutan banyak sekali lubang dan jurang yang siap memakan pendaki yang tidak waspada. Terlebih, si pendaki memaksakan diri menerobos hutan di malam hari sendirian. Pada kondisi ini, rasa takut dan gelisah memakan kesadaran pendaki. Akibatnya, pendaki mengalami penurunan kesadaran dan mengambil jalur yang salah, yaitu jalur menuju jurang.
  • Ketiga, pendaki jatuh ke jurang karena dia terpeleset ke jurang. Kasus ini sering terjadi saat pendaki berada di sekitar pelawangan, yaitu batas pos terakhir dan puncak. Kondisi di pelawangan adalah tebing atau jalur setapak yang mengerucut ke atas. Di mana, samping kanan dan kiri pendaki adalah jurang yang sangat dalam. Jika pendaki terpeleset dan jatuh saat sendirian, bisa dipastikan pendaki akan luka parah dan hilang dari pantauan.

Catatan: Kami tidak akan bosan mengingatkan pada pendaki untuk selalu berdoa saat di gunung. Apapun agamamu, jangan putus dalam berdzikir dan beribadah. Dengan begitu, kamu akan tetap terjaga dan waspada dengan medan yang sedang kamu lalui.

Tips agar tidak masuk ke jurang:

  1. Jangan memaksakan diri berjalan di malam hari, jika penerangan tidak memadai. Lebih baik mencari tempat beristirahat dan menunggu matahari terbit.
  2. Jika ada kabut tebal, jangan memaksakan diri untuk menerobos. Segera mendekatkan diri ke rombongan pendakian dan cari tempat istirahat. Tunggu sampai kabut menghilang.
  3. Selalu memperhatikan pijakan saat melangkah.

6. Pendaki mengalami penurunan kesadaran dan berhalusinasi

Banyak pendaki pemula yang tidak tahu tentang acute mountain sickness (AMS) dan hipotermia. Padahal AMS dan hipotermia dapat jadi penyebab pendaki gunung hilang. Di mana, orang yang terserang penyakit tersebut akan mengalami penurunan kesadaran, berhalusinasi hingga bertingkah seperti orang kerasukan. Pada kondisi akut, pendaki yang terserang AMS & hipotermia tidak bisa membedakan dunia nyata dan imajinasinya. Dia mulai bertingkah aneh, mengigau dan berjalan tak tentu arah. Akibatnya, pendaki berpisah dari rombongannya dan hilang di tengah gunung.

Penyebab utama penurunan kesadaran adalah terjadi gangguan di saraf pusat. Pemicu dari gangguan saraf pusat ini adalah gangguan metabolisme tubuh yang disebabkan oleh dehidrasi dan kedinginan. Terlihat sepele memang, tapi pendaki gunung yang terserang AMS dan hipotermia memiliki ciri yang sama, yaitu tubuh dingin dan bibir kering. Ini tandanya, pendaki mengalami dehidrasi dan kedinginan.

Bagaimana solusinya? Untuk mengatasi dehidrasi di gunung, kami telah membahasnya secara lengkap di artikel cara mengatasi dehidrasi di gunung. Dan untuk mengatasi kedinginan di gunung, kami telah membahasnya pada artikel terpisah, yaitu tips kedinginan di gunung. Silakan dipelajari dan dipraktikkan. Apabila kondisi tubuh pendaki selalu fit, pendaki gunung dapat berfikir jernih dan tidak mudah hilang di gunung.

7. Pendaki mengalami kejadian metafisika di gunung

Penyebab pendaki gunung bisa hilang yang terakhir adalah kejadian metafisika. Kejadian metafisika adalah kejadian di luar nalar manusia yang erat kaitannya dengan energi astral. Secara mudah, metafisika adalah energi tak kasat mata. Di mana, kejadian ini sering dihubungkan dengan makhluk gaib (MG) dan tempat keramat di gunung.

Berdasarkan sejarah dan budaya, masyarakat Indonesia menganggap gunung adalah tempat keramat. Hal ini bukan tanpa sebab. Karena banyak prasasti, petilasan dan makam raja-raja besar yang berada di gunung. Sehingga, residual energi dari berbagai generasi berkumpul di gunung. Banyak masyarakat setempat mempercayai bahwa gunung adalah istana para jin dan lelembut dengan kekuatan supranatural yang besar. Jadi, bagi pendaki yang berbuat salah di area kekuasaan mereka, si pendaki akan terkena karma.

Menurut data dari tim SAR, kejadian pendaki hilang karena kejadian metafisika ini kurang dari 1%. Tapi, kejanggalan kurang dari 1% ini sering membuat para pembaca penasaran. Oleh karena itu, kami carikan sumber informasi yang kredibel dalam menjelaskan fenomena tersebut.

Menurut penuturan Om Hao yang kami lansir dari kanal YouTube Kisah Tanah Jawa, ada pusaran energi besar di gunung. Energi besar dan berputar ini berhubungan dengan portal dimensi gaib. Portal-portal dimensi gaib ini bisa berupa:

  1. Portal teleportasi.
  2. Portal interdimensi.
  3. Portal alam gaib.
  4. Portal spiral waktu.

Menurut Om Hao, kasus-kasus metafisika di gunung telah terjadi sejak lama bahkan sejak sebelum Masehi.

Mungkin kamu bertanya, “Apa penyebab pendaki bisa mengalami kejadian metafisika di gunung?”. Ada 4 penyebab pendaki bisa mengalami kejadian metafisika di gunung:

  • Pertama, kesehatan pendaki turun sehingga energi manusianya lebih dan mudah terpengaruh energi lain yang lebih besar.
  • Kedua, daya konsentrasi pendaki lemah, seperti sering melamun, mendaki saat ada masalah dengan pacar, keluarga atau bisnis.
  • Ketiga, pendaki melanggar pantangan yang ada di gunung tersebut.
  • Keempat, berperilaku kurang sopan. Misalnya, berkata kotor, kencing dan BAB sembarangan, merusak situs yang dikeramatkan, hingga menantang penghuni gunung yang tak kasat mata.

Baca juga: Bolehkah Mendaki Gunung saat Haid? »

Aneh ya? Tapi, begitulah adanya, kamu boleh percaya, dan boleh juga tidak percaya! Tapi, saksi hidup dari beberapa pendaki gunung yang hilang karena kejadian metafisika masih ada. Salah satunya seperti ini:

  • Ada korban pendaki hilang yang bercerita, “”Saya di sana itu cuma sebentar, masuk ke kampung di gunung dan kemudian balik. Tapi, setelah saya muncul, orang-orang bingung dengan saya. Katanya saya sudah hilang selama berhari-hari. Padahal menurut saya, saya cuma sebentar.”.
  • Pendaki gunung merasa sedang berjalan seperti biasa, tapi tiba-tiba ada kabut misterius di depannya. Dia melanjutkan perjalanan tanpa berfikir macam-macam, tapi setelah keluar dari kabut, ternyata dia ada di tempat lain yang tidak dia kenali. Mungkin bisa berpindah dari lereng A ke lereng B, atau dari gunung A ke gunung B, kejadiannya mirip teleportasi.
  • Ada juga pendaki yang ke tarik ke alam lain. Di mana, pendaki tersebut ke tarik ke titik waktu tertentu di masa lalu. Jadi, dia berpapasan dengan orang-orang atau penduduk di bukan jamannya.
  • Beberapa pendaki hilang yang selamat memberikan kesaksian, bahwasanya dia di bawa oleh prajurit dan di bawa ke istana. Di sana, dia disidang atas perbuatannya yang berperilaku kurang sopan di gunung dan melanggar beberapa pantangan. Misalnya, mengambil benda pusaka, merusak situs, atau mengencingi tempat keramat. Pada kondisi ini, pendaki harus dihukum atas kelakuannya. Ada yang ditahan di alam lain selama beberapa hari, atau bahkan beberapa bulan.

Unik ya! Jadi, percaya atau tidak percaya dengan informasi ini, sebaiknya pendaki selalu berperilaku sopan saat di gunung. Jangan melanggar pantangan yang sudah dikasih tahu di basecamp pendakian. Toh itu, juga demi keselamatan pendaki.

Tips agar tidak mengalami kejadian metafisika di gunung:

  1. Awali pendakian dengan berdoa, iringi perjalanan dengan berdzikir dan akhiri pendakian dengan bersyukur.
  2. Jangan berperilaku tidak sopan di gunung dan jangan melanggar pantangan.
  3. Jangan mengambil barang yang bukan milikmu, jangan merusak alam dan jangan mengambil satwa atau tanaman yang dilindungi.

Akhir kata, ada beberapa poin penting yang dapat kamu ambil dari topik “penyebab pendaki gunung hilang”. Pertama, saat mendaki gunung kamu wajib mempelajari medan pendakian dengan seksama. Ajak pendaki senior yang sudah paham jalur pendakian tersebut. Kedua, pastikan membawa alat navigasi serta perlengkapan mendaki gunung yang memadai. Ketiga, jika ada larangan dari basecamp pendakian jangan dilanggar. Terakhir, biasakan diri untuk berperilaku sopan saat naik dan turun gunung. Karena pendaki adalah tamu di sana.

Baca lebih lanjut: Cara Mendaki Gunung agar Tidak Mudah Lelah »

Previous Article

Tempat Camping di Jawa Timur

Next Article

Bolehkah Mendaki Gunung saat Haid?

Tinggalkan komentar