Tips Mendaki Gunung saat Haid

Pendaki perempuan biasanya akan bingung saat jadwal pendakian yang sudah disusun jauh hari ternyata bertepatan dengan siklus haid. Pada beberapa kasus, haid tidak selalu muncul sesuai dengan siklus rutin. Kadang muncul lebih cepat atau malah lebih lambat dari biasanya. Beberapa pendaki akhirnya nekat untuk tetap pergi mendaki gunung. Sebenarnya memang tidak ada larangan untuk mendaki saat haid. Namun, kamu akan menghadapi lebih banyak kesulitan. Lalu, bagaimana tipsnya supaya kamu tetap dapat melakukan pendakian dengan aman walaupun sedang haid? Berikut 10 tips mendaki gunung saat haid:

Lanjutkan membaca sampai akhir, ya. Kami akan ulas 10 tips mendaki gunung saat haid khusus buat kamu, nih! Let’s get started!

1. Kenali respon tubuhmu saat sedang haid

Urutan pertama, tips mendaki gunung saat haid adalah kenali kondisi tubuh ketika sedang haid atau menstruasi. Mengenali bagaimana respon tubuh ini akan sangat membantumu mempersiapkan banyak hal sebelum dan saat pendakian. Tiap tubuh perempuan memiliki respon yang berbeda saat memasuki siklus haid. Ada yang merasakan kram perut, lemas, sakit pinggang, anemia, bahkan pusing. Namun, ada juga yang hanya sekadar lemas, tapi tidak mengalami sakit apapun sehingga tetap nyaman beraktivitas seperti biasanya.

Kalau kamu tipe yang kedua, maka kamu boleh melanjutkan rencana pendakianmu. Kamu hanya perlu mempersiapkan fisikmu sebelum berangkat agar tidak mendadak drop di gunung. Latih fisik dengan olahraga ringan, cukup istirahat, dan konsumsi makanan yang bergizi. Saran kami, susun planning B untuk rencana pendakianmu. Kalau tadinya kamu akan mendaki sampai puncak, cobalah membuat planning pendakian hanya sampai di camping ground saja. Ini untuk berjaga-jaga supaya kamu tidak kecewa. Barangkali tubuhmu tidak sekuat yang kamu perkirakan. Apalagi di jalur pendakian sering terjadi hal-hal di luar dugaan. Kami tidak bosan mengingatkan, puncak tidak pergi kemana-mana! Kamu bisa mendaki sampai ke puncak gunung di lain waktu.

Nah, kalau ternyata tubuh adalah tipe yang sering kelelahan dan sakit berlebihan tiap kali haid, jangan lanjutkan! Ada baiknya kamu menunda rencana pendakian. Jangan memaksa untuk pergi karena nantinya malah akan merepotkan dirimu sendiri dan rekan-rekan lainnya.

2. Bawa stok pembalut yang cukup

Setelah yakin bahwa kamu mampu untuk melakukan pendakian saat haid, maka lanjut ke tips berikutnya. Persiapkan stok pembalut! Ada baiknya kamu membawa stok pembalut dengan ukuran yang panjang, tebal, dan berdaya serap tinggi. Tujuannya supaya pembalut dapat menyerap darah haid dengan baik dan lebih tahan lama. Kalau perlu, pilih jenis pembalut yang bersayap agar posisinya tidak mudah bergeser walaupun kamu banyak bergerak.

Kamu wajib membawa pembalut dengan jumlah yang cukup agar tidak kehabisan saat sedang berada di gunung. Kebutuhan tiap perempuan pasti berbeda-beda. Ada yang dalam sehari membutuhkan sekitar 2-3 pembalut, tapi ada juga yang lebih. Terutama di 1-3 hari awal haid pasti akan membutuhkan lebih banyak pembalut.

Kamu dapat memperhitungkan sendiri berapa banyak kebutuhan pembalutmu sesuai lamanya waktu pendakian. Saran kami, lebihkan jumlahnya untuk 1 hari. Misalnya, kamu akan mendaki selama 2 hari. Berarti hitunglah kebutuhan stok pembalut untuk 3 hari. Tujuannya untuk berjaga-jaga barangkali ada situasi tertentu yang membuatmu harus lebih sering mengganti pembalut. Misalnya seperti kehujanan, terlalu berkeringat karena jalur ekstrim, dan lain sebagainya. Perhitungan ini juga berlaku untuk jumlah celana dalam yang akan kamu bawa, ya.

3. Bawa perlengkapan khusus untuk masa haid

Kertas dan plastik adalah perlengkapan yang perlu dibawa saat kamu mendaki di masa haid. Kamu dapat menggunakan kertas untuk membungkus rapat pembalut bekas pakai. Untuk alasan kebersihan dan keselamatan, jangan sembarangan membuang pembalut bekas pakai di area pendakian. Nanti kami akan jelaskan di bagian lain tentang cara membungkus dan membuang pembalut bekas ini.

Selanjutnya, tisu basah juga menjadi perlengkapan wajib yang perlu kamu bawa. Selama pendakian, kamu tidak selalu dapat menemukan sumber air dengan mudah. Terutama di waktu-waktu kamu harus segera mengganti pembalut. Jadi, tisu basah akan sangat bermanfaat untuk membersihkan area kewanitaan supaya tetap steril. Supaya lebih steril, kami sarankan untuk membawa hand sanitizer. Kamu dapat menggunakannya untuk mensterilkan tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut.

4. Sediakan obat pereda nyeri dan vitamin penambah darah

Obat pereda nyeri wajib kamu bawa saat sedang mendaki dalam kondisi haid. Rasanya pasti akan sangat tidak nyaman kalau harus mendaki dengan perut nyeri. Rasa nyeri yang dibiarkan akan membuat fisikmu semakin lemah. Kondisi ini tentu akan menghambat gerakanmu selama pendakian. Melansir dari detikTravel, dr. Nurhadi, SpOG menekankan pentingnya obat pereda nyeri. Obat ini dapat meringankan kontraksi rahim penyebab munculnya rasa nyeri selama masa haid tersebut. Untuk menentukan obat pereda nyeri terbaik yang cocok untuk tubuhmu, kamu dapat berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Jangan lupa, vitamin penambah darah juga penting untuk dibawa. Saat sedang haid, kebanyakan perempuan juga akan mengalami gejala anemia. Kondisi ini sangat membahayakan saat kamu sedang berada di jalur pendakian. Banyak kasus di mana pendaki perempuan yang sedang haid akhirnya harus dievakuasi akibat terserang anemia. Jadi, pastikan kamu membawa vitamin penambah darah dan rutin mengonsumsinya setiap hari.

5. Lebih sering minum air putih

Tips mendaki gunung saat haid berikutnya adalah usahakan untuk lebih sering minum air putih selama pendakian. Jangan sampai kamu mengalami dehidrasi. Dehidrasi akan membuat nyeri haid semakin parah karena otot-otot rahim akan berkontraksi lebih keras. Jadi, pastikan kamu mengonsumsi banyak air putih selama pendakian agar aktivitasmu tidak terganggu oleh nyeri haid. Hindari mengonsumsi minuman yang mengandung pemanis berlebih, soda, dan kafein karena dapat menyebabkan dehidrasi. Cukup air putih saja, ya.

6. Perbanyak konsumsi makanan atau camilan untuk menambah energi

Bagi kamu yang mendaki gunung saat haid, penting sekali untuk memperbanyak konsumsi makanan atau camilan. Tujuannya adalah untuk menambah energi. Biasanya tubuh akan mudah lelah saat sedang haid. Padahal, seorang pendaki harus selalu memiliki stamina yang kuat. Kamu dapat membekali diri dengan pilihan makanan atau camilan tinggi protein, kaya serat, dan mudah dicerna. Misalnya seperti kacang-kacangan, roti gandum, atau buah. Letakkan beberapa bungkus di bagian tas yang mudah dijangkau. Jadi, kapan saja kamu mulai merasa lemas, kamu dapat segera memakannya tanpa repot membongkar isi tas.

7. Beritahukan kepada anggota grup pendakian bahwa kamu sedang haid

Anggota grup pendakian perlu tahu kalau kamu sedang haid agar mereka dapat memantau kondisimu. Rasa nyeri atau kram perut saat haid pasti menghambat gerakan di perjalanan. Kamu akan menjadi lebih lambat karena banyak berhenti. Jangan sampai anggota grup tidak paham kondisimu sehingga kamu tertinggal atau malah sampai terpisah dari rombongan. Tidak perlu malu atau sungkan. Dari pengalaman kami, anggota grup lainnya dengan senang hati membantu untuk membawakan beberapa barang. Bahkan, mereka tidak segan untuk menunggu kalau kamu meminta waktu untuk beristirahat sebentar. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, anggota grup juga dapat sigap menolong dan memanggil tim evakuasi.  

8. Rutin ganti pembalut

Tips mendaki gunung saat haid yang berikutnya adalah rutin mengganti pembalut. Kalau kamu jarang mengganti pembalut, efek buruknya dapat muncul ruam kulit, gatal, dan perih. Sebabnya, darah kotor yang dibiarkan terlalu lama dapat menjadi sarang bakteri dan menyebabkan infeksi. Pasti sangat tidak nyaman kalau ini sampai terjadi saat kamu sedang mendaki gunung, kan? Rutin ganti pembalut juga akan meminimalisir kemungkinan bocor di bagian samping atau belakang celana.

dr. Verury Verona pada website Halodoc menjelaskan seberapa sering kamu harus mengganti pembalut. Kenali dulu seberapa deras aliran darah haidmu. Kalau pembalutmu tidak tebal dan aliran darahnya sedang deras, maka kamu harus lebih sering menggantinya. Waktu yang ideal adalah setiap 4-6 jam sekali.

Untuk pembalut bekas pakainya, sebelum di bungkus kertas, teteskan dulu minyak telon atau bubuk kopi. Tujuannya untuk menyamarkan aroma darah haid dari pembalut tersebut. Setelahnya, gulung dan bungkus rapat dengan kertas. Kalau perlu, gunakan hingga 2 lapis kertas. Kalau sudah terbungkus rapi, simpanlah ke dalam kantong plastik dan masukkan ke ransel. Kamu dapat membuangnya saat sudah kembali turun ke pos awal. Ingat! Jangan meninggalkan bungkus pembalut bekas pakai di gunung.

9. Jangan buang air kecil sembarangan

Dalam kondisi normal, para pendaki tidak boleh buang air kecil sembarangan. Apalagi kalau kamu sedang haid. Selain alasan kebersihan, tentu juga ada kepercayaan lain terkait hal mistis di gunung. Dari pengalaman beberapa teman pendaki perempuan kami, mereka punya kebiasaan yang mungkin dapat kamu contoh. Mereka akan menggali tanah terlebih dahulu sebelum buang air. Nanti setelahnya, di tempat buang air tersebut ditutup kembali dengan tanah. Tujuannya untuk menyamarkan aroma darah haid yang keluar bersama air seni. Cara ini juga efektif untuk mengurangi kemungkinan serangan hewan tertentu. Beberapa jenis hewan sangat sensitif dengan aroma darah sehingga mungkin saja membahayakan keselamatanmu.

Jangan lupa untuk selalu ‘permisi’ saat akan buang air. Percaya atau tidak, beberapa tempat di gunung memiliki ‘penunggu’. Jangan sampai aktivitas buang airmu mengganggu mahkluk-mahkluk tak kasat mata yang ada di sana.

10. Jaga sikap dan tetap berpikiran positif

Saat sedang haid, kamu akan mengalami mood swing sehingga lebih sensitif dan mudah emosi. Terutama kalau kamu menghadapi situasi yang cukup berat. Ini dipengaruhi oleh naik turunnya kadar hormon estrogen dalam tubuh.

Segala sesuatu dapat terjadi di luar dugaan selama pendakian. Entah jalur yang semakin ekstrim atau cuaca yang mendadak berubah. Kondisi ini sangat mempengaruhi mood. Kamu akan lebih cepat marah, kesal, tidak bersemangat, depresi, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, tips terakhir ketika mendaki gunung saat haid adalah selalu menjaga sikap dan tetap berfikit positif. Intinya, selalu berhati-hati, ya. Kendalikan diri supaya tidak bersikap berlebihan dan tidak mengucapkan kata-kata kasar. Jangan lupa bahwa di gunung ada pantangan untuk bersikap atau berucap yang tidak sopan. Gunung-gunung di Indonesia memiliki banyak misteri gaib yang berhubungan dengan mahkluk tak kasat mata. Mahkluk-mahkluk tak kasat mata ini dipercaya suka mengikuti perempuan yang sedang haid karena terpancing oleh aroma dari darah haid tersebut.

Cobalah untuk tetap tenang, selalu berpikir positif, dan jangan biarkan pikiranmu kosong. Nikmati saja aktivitas pendakian seperti biasanya. Perbanyak berdoa agar dikuatkan dan dijauhkan dari gangguan hal-hal buruk. Saat mood memburuk karena nyeri haid, berhenti sejenak. Ajak ngobrol santaiteman-temanmu supaya kamu lebih rileks dan perhatian teralihkan ke hal lainnya. Mengonsumsi sedikit camilan juga dapat membantu mengurangi mood swing.  

Mendaki gunung saat sedang haid memang kurang dianjurkan karena biasanya stamina tubuh sedang menurun. Namun, kalau kamu tetap nekat pergi mendaki, maka 10 tips tadi wajib kamu terapkan. Mulai dari persiapan fisik, perlengkapannya, hingga saat sedang berada di jalur pendakian. Jangan sampai keinginanmu mendaki gunung saat haid malah merepotkan teman pendaki lainnya. Kalau kamu ingin menambahkan tips lainnya seputar mendaki gunung saat haid, silakan bagikan di kolom komentar, ya.

Baca lebih lanjut: Tips Mendaki Gunung untuk Pemula »

Previous Article

Cara Menggunakan Kompas di Gunung

Next Article

Kenapa Pendaki Dilarang Membawa Tisu Basah Saat Naik Gunung?

Tinggalkan komentar